Tak pernah terdapat yang menduga sebelumnya, Brenton Tarrant, pemuda 28 tahun yang membantai 50 orang di dua masjid di Christchuch, Selandia Baru Jumat lalu, ternyata mengagumi negara China laksana yang dia tulis dalam surat panjang atau manifestonya.

Dalam tulisannya, Tarrant menyinggung ‘negara yang sangat dekat dengan pandangan politik dan sosial yang dianutnya’ ialah China. Tarrant menuliskan dia mengagumi negara yang ‘tidak berbagai ragam’.

 

Meski Tarrant tidak menjabarkan kenapa dia menyenangi China, tetapi tindakan terorisme yang dia kerjakan rupanya mendapat sokongan dari sebanyak pemakai dunia maya di China.

 

Dalam di antara tautan di jejaring sosial WeChat terdapat judul tulisan “Kata-kata yang tertulis di senjata pelaku penembakan di Selandia Baru menggambarkan kegelisahan mendalam orang kulit putih di Eropa.”

Dikutip dari laman Quartz, Senin (18/3), Tarrant diketahui mencatat sejumlah ucapan-ucapan di senjata yang dia pakai untuk membantai 50 orang itu. Kata-kata tersebut menunjukkan supremasi bangsa kulit putih yang dimuliakan Tarrant.

 

Artikel di WeChat tersebut sedikitnya dibaca oleh lebih dari 100 ribu orang di China. Isinya menyalahkan pemerintah Kota Christchurch yang memperbolehkan pembangunan masjid sampai menyebabkan penduduk muslim tidak sedikit berdatangan ke kota itu. Bahkan terdapat kalimat di tulisan itu yang menyinggung penembakan itu ialah rekayasa yang dibuat oleh politisi aliran kiri.

 

Sejumlah komentar dari tulisan itu pun menyebut semua penganut ‘agama hijau’–sebutan melecehkan di dunia maya China terhadap Islam–yang mengakibatkan serangan tersebut terjadi terhadap mereka.

“Agama hijau melancarkan serangan teroris di mana-mana, dan kini serangan tersebut akhirnya berpulang pada mereka sendiri. Agama hijau tersebut terbelakang, bodoh, barbar, dan bengis,” kata seorang pemakai dunia maya.

 

Di jejaring sosial Weibo di China, tidak sedikit komentar pun justru menilai penembakan itu ialah hasil tindakan yang dibetulkan secara politik. Pandangan semacam ini dalam sejumlah tahun belakangan mendapat tidak sedikit dukungan di dunia maya di China.

Salah satu pemakai Weibo menulis, “Aksi ini format perlawanan kaum kulit putih yang jarang terjadi. Kita mesti perbanyak aksi semacam ini dan mendorong orang kulit putih guna memberi penghargaan untuk pelaku penembakan, tergolong hadiah Nobel Perdamaian.”

Pengguna beda berkomentar dengan mengatakan, “peristiwa ini jadi peringatan untuk penganut ‘agama hijau’ bahwa tidak seluruh orang akan tidak mempedulikan tindak kekerasan yang mereka kerjakan selama ini.”

Sentimen anti-Islam sekarang makin meluas di dunia Internet di Negeri Tirai Bambu di tengah beredarnya kabar kepandaian pemerintah China yang mengurangi kaum minoritas laksana yang dirasakan muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

 

Salah satu permasalahan yang sempat mengemuka yakni soal ‘halalifikasi’, penduduk China marah sebab produk halal dapat mengancam persatuan China. Salah satu software jasa ekspedisi makanan terbesar di China, Meituan, tahun lalu mengenalkan layanan ekspedisi dengan kemasan makanan halal dan tersebut memicu kemarahan penduduk China. Mereka mengatakan tahapan itu format diskriminasi terhadap penduduk non-muslim.